Taujih Syaikhuna Al-Ustadz Abdul Aziz Abdurrauf, Lc., Al-Hafizh, @Silatnas Komnas Palestina. Jakarta, 22 Agustus 2026
Diramu dan disarikan oleh Ustadz Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A - Ketua Komnas Palestina Jawa Barat
Tidak ada bekal yang paling diharapkan Allah Swt. dimiliki oleh para pejuang Palestina selain Al-Quran, bekal yang sejatinya juga merupakan bekal setiap mukmin. Namun, bekal itu menjadi semakin utama bagi mereka yang berada di garis depan perjuangan.
Al-Quran yang harus menjadi utrujah. Tetapi utrujah yang spesial: Utrujah Palestina, Utrujah Al-Quds, Utrujah Tahrir Palestina.
طَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَرِيحُهَا طَيِّبٌ
Semoga semakin banyak yang bergabung dalam Harakah Tahrir Palestina. Bukan semata-mata dengan donasi, tetapi juga dengan qalbi dan ruhi. Bukan hanya keterlibatan harta, tetapi juga keterlibatan hati dan ruh.
Indimaj qalbi, indimaj ruhi, indimaj mali.
Bersatunya hati, bersatunya ruh, dan bersatunya harta dalam perjuangan.
Rasulullah saw bersabda,
خَيْرُ جِهَادِكُمُ الرِّبَاطُ، وَخَيْرُ رِبَاطِكُمْ عَسْقَلَانُ.
“Sebaik-baik jihad kalian adalah ribat, dan sebaik-baik tempat ribat kalian adalah ‘Asqalan.”
Tentu tidak hanya di Asqalan, Tepi Barat, dll. Namun al-‘Asqalan wa ma haulahu (Asqalan dan sekitarnya).
Al-Quran, khususnya Surah Al-Isra, menjadi salah satu sumber utama agar kaum Muslimin terus memberikan perhatian kepada tema Al-Aqsa dan Palestina. Tema Al-Aqsa disebut secara eksplisit sebanyak 11 kali, dan secara implisit sekitar 20 kali di dalam surah ini.
Karena itu, seharusnya Surah Al-Isra tidak hanya kita baca sebagai rangkaian ayat yang berbicara tentang peristiwa Isra Mi’raj.
Menurut Dr. Muhammad Musthafa An-Nubani, anggota Ittihad Ulama Palestina,“Surah Al-Isra semestinya menjadi bagian dari manhaj tamkin wal-istikhlaf—manhaj menuju penguatan umat, peradaban, dan pelaksanaan amanah kekhalifahan di muka bumi.”
Al-Isra, sebagaimana Surah Ash-Shaff, Al-Hasyr dan beberapa surah lainnya, termasuk suwar al-musabbihat, surah-surah yang diawali dengan tasbih kepada Allah. Surah-surah ini juga memiliki kedekatan yang kuat dengan wird an-naum, bacaan yang direnungkan dan dihidupkan menjelang tidur. Luar biasa, saat akan tidur saja kita diminta untuk merenung dan mengingat tentang Masjid al-Aqsha dan pertempuran melawan kebatilan.
Mengapa?
Karena seorang mukmin membutuhkan bekal untuk menghadirkan ma‘iyyatullah—kesadaran bahwa Allah senantiasa bersama dirinya. Dan ma‘iyyatullah itu diwujudkan melalui ketakwaan.
Ketakwaan kemudian melahirkan ihsan. Allah berfirman,
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُحْسِنُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang berbuat ihsan.”
Muhsinun adalah orang-orang yang senantiasa berada dalam kebaikan; mereka bukan sekadar melakukan kebaikan sesekali, tetapi menjadikan kebaikan sebagai karakter dan jalan hidup.
Dan ‘ubudiyyah adalah senjata orang beriman dalam menerapkan ihsan. Allah Swt. berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
Perhatikan susunan ayat ini.
Pertama, أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ — jangan menyembah selain Allah.
Kemudian dilanjutkan dengan:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا —
dan berbuat ihsan kepada kedua orang tua.
Di sini terdapat gambaran yang sangat kuat tentang dua dimensi kehidupan seorang mukmin,
حَبْلٌ مِنَ اللهِ وَحَبْلٌ مِنَ النَّاسِ
Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Ubudiyyah kepada Allah melahirkan ihsan kepada sesama.
Kemudian kita kembali kepada pembukaan Surah Al-Isra:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Ada satu hal yang sangat menarik untuk direnungkan. Jika Al-Qur’an ini adalah buatan manusia, mungkin banyak orang akan membayangkan bahwa penutup yang paling sesuai untuk ayat yang menggambarkan kehebatan Allah dalam peristiwa Isra adalah,
إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Tetapi ternyata bukan itu penutupnya. Allah menutup ayat ini dengan:
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Ini bukan sekadar penutup ayat. Ini adalah pesan.
Setelah Allah memperlihatkan kepada kita kehebatan-Nya dalam peristiwa Isra, lalu apa yang seharusnya kita katakan?
مَاذَا تَقُولُونَ؟
Apa yang akan kalian katakan?
Apa yang akan kalian lakukan setelah menyaksikan kebesaran Allah?
Allah Maha Mendengar.
Allah Maha Melihat.
Allah mendengar doa-doa hamba-Nya.
Allah melihat perjuangan hamba-Nya.
Allah mengetahui setiap air mata, setiap luka, setiap ketakutan, setiap pengorbanan, dan setiap amal yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Karena itu, para pejuang Gaza terus memaksimalkan ta‘amul ma‘al-Qur’an—interaksi, kebersamaan, dan kehidupan bersama Al-Qur’an.
Bahkan di dalam terowongan-terowongan sekalipun.
حَتَّى فِي الْأَنْفَاقِ يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ وَيُؤَلِّفُونَ
Di dalam terowongan-terowongan itu mereka tetap belajar, mengajar, bahkan menulis.
Mereka tidak membiarkan keadaan menghalangi hubungan mereka dengan Al-Qur’an.
Mereka tetap belajar ketika berada dalam keterbatasan.
Mereka tetap mengajarkan ketika berada dalam kesulitan.
Mereka tetap menulis ketika berada dalam tekanan.
مَا بَالُكَ فِي الْقَصْرِ؟
- Lalu bagaimana dengan kita yang berada di istana?
- Bagaimana dengan kita yang hidup dalam kenyamanan?
- Bagaimana dengan kita yang memiliki berbagai kemudahan untuk belajar Al-Qur’an?
Jika mereka yang berada di dalam terowongan masih mampu belajar, mengajar, dan menulis bersama Al-Qur’an, maka apa alasan kita yang hidup dalam kelapangan?
Inilah bekal yang sesungguhnya. Bukan hanya bekal materi. Bukan hanya donasi.
Tetapi bekal qalbi, bekal ruhi, dan bekal maali. Hati yang terhubung. Ruh yang terhubung. Harta yang terhubung.
Indimaj qalbi
Indimaj ruhi
Indimaj mali
Sebab Palestina bukan sekadar persoalan geografis.
Al-Aqsa bukan sekadar sebuah tempat.
Ia adalah bagian dari sejarah iman, bagian dari perjalanan risalah, dan bagian dari kesadaran umat Islam.
Maka mari kita hidupkan kembali Al-Qur’an dalam diri kita.
Mari kita hadirkan ma‘iyyatullah dalam kehidupan kita.
Mari kita tumbuhkan taqwa, ihsan, dan ‘ubudiyyah.
Dan mari kita menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang kita baca, tetapi sesuatu yang menghidupkan hati, menggerakkan ruh, dan mengarahkan amal.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya:
Seberapa banyak yang telah kita berikan untuk Palestina?
Tetapi:
Seberapa jauh hati kita telah bersama Palestina?
Seberapa jauh ruh kita telah bersama Al-Aqsa?
Dan seberapa jauh Al-Qur’an telah mengubah hidup kita?
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang qalbuhu ma‘al-Qur’an, ruhuhu ma‘al-Qur’an, wa maluhu fi sabilillah.
Semoga Allah menjaga Al-Aqsa, menjaga saudara-saudara kita di Palestina, meneguhkan para pejuang kebenaran, mengangkat kezaliman dari bumi Palestina, dan memperlihatkan kepada kita kemenangan kebenaran atas kebatilan.
لِيَحِقَّ الْحَقُّ وَلِيُبْطِلَ الْبَاطِلُ
Agar kebenaran itu tegak dan kebatilan itu sirna.