Home / Event / Menjaga Nyala Kepedulian: Dari Teladan Rasulullah SAW untuk Palestina
Kembali ke Daftar Event

Menjaga Nyala Kepedulian: Dari Teladan Rasulullah SAW untuk Palestina

6 Oktober 2026
Menjaga Nyala Kepedulian: Dari Teladan Rasulullah SAW untuk Palestina

Ustadz Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A

Ketua Komnas Palestina Jawa Barat & Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Kota Bandung

__

Islam tidak pernah mendidik umatnya menjadi manusia yang hanya memikirkan keselamatan dan kenyamanan dirinya sendiri. Sejak awal risalahnya, Rasulullah ﷺ membangun masyarakat yang memiliki kepekaan terhadap penderitaan, keberpihakan kepada yang terzalimi, dan semangat untuk saling menolong dalam kebaikan. Iman tidak berhenti pada hubungan seorang hamba dengan Allah ﷻ, tetapi harus melahirkan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat bahwa sesama mukmin terikat oleh persaudaraan yang sangat kuat. Beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa penderitaan saudara kita tidak sepatutnya dipandang sebagai persoalan mereka semata. Ketika ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, keamanan, dan hak untuk menjalani kehidupan secara bermartabat, hati seorang mukmin semestinya ikut terusik. Terlebih ketika penderitaan itu berlangsung panjang dan dialami oleh suatu bangsa yang terus memperjuangkan hak-haknya.

 

Membela Mereka yang Terzalimi

Al-Qur’an memberikan perhatian besar kepada kaum mustadh‘afin, yaitu mereka yang dilemahkan dan mengalami penindasan. Allah ﷻ berfirman:

 

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…” (QS. An-Nisā’: 75)

 

Ayat ini menanamkan prinsip penting bahwa Islam tidak membenarkan sikap acuh terhadap kezaliman. Membela orang yang terzalimi merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim, tentu dengan cara-cara yang benar, proporsional, sesuai kemampuan, dan tidak melahirkan kezaliman baru.

Spirit inilah yang harus terus kita hidupkan ketika melihat penderitaan rakyat Gaza dan Palestina. Kita tidak boleh membiarkan panjangnya konflik membuat hati menjadi terbiasa melihat penderitaan. Jangan sampai banyaknya korban membuat sebuah tragedi kemanusiaan berubah hanya menjadi deretan angka.

Di balik setiap angka terdapat manusia. Ada anak yang kehilangan orang tuanya. Ada orang tua yang kehilangan anaknya. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Ada orang sakit yang membutuhkan pengobatan. Ada anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain dalam keamanan, tetapi harus tumbuh di tengah ketakutan dan ketidakpastian.

 

Kemanusiaan menuntut kita untuk tidak berpaling.
Kepedulian Harus Menjadi Amal.

 

Namun kepedulian tidak cukup hanya berupa kesedihan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa iman harus melahirkan tindakan nyata. Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)

Karena itu, perjuangan membantu rakyat Gaza dan Palestina dapat diwujudkan melalui banyak jalan sesuai kemampuan masing-masing.

Ada yang mampu membantu melalui doa, maka jangan pernah meremehkan doa. Ada yang memiliki kelapangan harta, maka bantulah melalui lembaga kemanusiaan yang amanah dan kredibel. Ada yang memiliki ilmu dan mimbar, maka berikanlah edukasi yang benar. Ada yang memiliki pengaruh di ruang publik, maka gunakanlah untuk menyuarakan kemanusiaan dan keadilan. Para akademisi dapat berkontribusi melalui kajian dan pemikiran; para diplomat melalui diplomasi; para pemimpin melalui kebijakan; dan masyarakat luas melalui solidaritas kemanusiaan yang tertib, damai, serta bertanggung jawab.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Tetapi setiap orang dapat melakukan sesuatu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah semangat yang perlu terus kita rawat. Kita mungkin tidak berada langsung di Gaza, tetapi jarak geografis tidak boleh mematikan kedekatan hati dan tanggung jawab kemanusiaan.

 

Palestina dan Amanah Konstitusi Indonesia

Bagi bangsa Indonesia, kepedulian terhadap kemerdekaan Palestina memiliki dimensi yang lebih luas. Ia bukan semata-mata persoalan solidaritas keagamaan, tetapi juga berkaitan erat dengan jati diri dan amanah konstitusi bangsa Indonesia.

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam dokumen kenegaraan. Ia lahir dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia yang pernah merasakan pahitnya penjajahan. Karena itu, bangsa ini memahami betapa mahalnya sebuah kemerdekaan dan betapa berat penderitaan suatu bangsa ketika hak menentukan masa depannya sendiri dirampas.

Maka keberpihakan kepada kemerdekaan Palestina memiliki tiga dimensi sekaligus: panggilan keimanan, amanah konstitusi, dan spirit kemanusiaan sejagat.

Sebagai Muslim, kita terpanggil oleh ukhuwah dan kewajiban membela yang terzalimi. Sebagai bangsa Indonesia, kita memiliki amanat konstitusional untuk menolak penjajahan. Sebagai manusia, kita mempunyai hati nurani yang tidak semestinya diam ketika menyaksikan sesama manusia kehilangan hak-hak dasarnya.

 

Jangan Lelah Membela Kemanusiaan

Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi tragedi yang berlangsung lama adalah munculnya kelelahan kepedulian. Pada awalnya kita menangis, berdoa, membantu, dan bersuara. Tetapi ketika penderitaan berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, perhatian perlahan berkurang.

Di sinilah istiqamah kita diuji.

Jangan sampai karena penderitaan itu terlalu lama, kita menganggapnya biasa. Jangan sampai karena berita tentang korban terus berulang, hati kita kehilangan rasa. Dan jangan sampai karena persoalannya terasa rumit, kita memilih berhenti peduli.

Kepedulian harus terus dijaga dengan ilmu, kesadaran, doa, dan amal nyata. Bantulah melalui jalan-jalan kemanusiaan yang sah dan bertanggung jawab. Suarakan kebenaran tanpa kebencian terhadap kelompok manusia berdasarkan agama atau etnisnya. Kritiklah kezaliman sebagai kezaliman, dan perjuangkan keadilan sebagai keadilan. Sebab Islam memerintahkan kita berlaku adil bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang tidak kita sukai.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 8)

Karena itu, perjuangan untuk Palestina harus tetap menjadi perjuangan yang berlandaskan keadilan, kemanusiaan, dan kemuliaan akhlak.

Palestina pada akhirnya bukan hanya persoalan satu bangsa atau satu wilayah. Palestina adalah salah satu ujian besar bagi nurani kemanusiaan kita: apakah dunia masih memiliki keberanian untuk membela mereka yang tertindas, menolak penjajahan, dan memperjuangkan kehidupan yang aman, adil, merdeka, serta bermartabat bagi setiap manusia.

Mari terus berbuat dengan apa yang kita miliki. Jangan merasa bantuan kita terlalu kecil. Jangan merasa doa kita tidak berarti. Jangan merasa suara kita sia-sia. Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah kecil di sisi Allah ﷻ.

Kita mungkin tidak mampu melakukan semuanya, tetapi kita tidak boleh memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Semoga Allah ﷻ melindungi rakyat Gaza dan seluruh Palestina, menguatkan mereka yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal, menyembuhkan yang terluka, mencukupi mereka yang kelaparan, menjaga anak-anak dan kaum lemah, serta mengaruniakan kepada rakyat Palestina kehidupan yang aman, adil, bermartabat, dan kemerdekaan yang hakiki.

 

اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمَظْلُومِينَ، وَاحْفَظْ أَهْلَ فِلَسْطِين، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْبَلَاءَ، وَارْزُقْهُمُ الْأَمْنَ وَالْعَدْلَ وَالْحُرِّيَّةَ وَالْكَرَامَةَ.

Ya Allah, tolonglah mereka yang terzalimi. Lindungilah rakyat Palestina. Angkatlah kezaliman dan penderitaan dari mereka, serta anugerahkan kepada mereka keamanan, keadilan, kemerdekaan, dan kemuliaan.

Wallahu a’lam

 


Event Lainnya

Kembali ke Daftar Event
Tautan berhasil disalin!